MAWAR PUTIH
Disebuah rumah yang besar hidup
seorang anak perempuan bernama Wina, ia hidup dengan kedua orang tuanya yang
keduanya sama-sama bekerja hingga tidak ada waktu untuk mengurusi Wina karena mereka
selalu sibuk dengan urusannya masing-masing sampai akhirnya Wina diasuh oleh
neneknya. Wina merupakan anak tunggal yang mandiri ia tidak pernah menyusahkan
orang lain maupun orang tuanya, neneknya lah yang mendidik Wina menjadi seperti
itu dari kecil hingga ia dewasa sekarang. Wina juga tumbuh menjadi seorang
wanita yang peduli terhadap sesama, dari semenjak masih sekolah hingga sekarang
ia rutin mendonorkan darahnya di PMI. Kini Wina kuliah disebuah universitas terkemuka
fakultas pertanian karena Wina sangat menyukai tanaman, saat kecil dulu Wina
diajari sang nenek untuk bercocok tanam. Saking sukanya ia terhadap tanaman hampir
semua tanaman tumbuh dihalaman rumahnya, namun hanya satu tanaman yang Wina
sukai yaitu bunga mawar putih yang walaupun tanaman itu penuh melukai tangannya
karena duri tapi Wina tidak pernah takut untuk merawatnya. Wina beranggapan
jika mawar putih merupakan lambang kesucian serta penyatuan dua insan yang
saling mencintai, itulah alasan Wina menyukainya.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang
Wina berjalan menuju kelasnya tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang lelaki
dan jatuhlah semua buku yang ia bawa dan laki-laki itu membantu Wina membereskannya.
Laki-laki itu mengajak Wina berkenalan dan menyodorkan tangannya, “Aku Sandi,
aku dari fakultas seni. Maaf untuk keteledorannya ya, nama kamu siapa?”. Wina menjawab.”Iya
tidak apa-apa, aku Wina dari fakultas pertanian”. Mereka berbincang dikantin
sambil menceritakan diri mereka masing-masing hingga mereka lupa waktu yang
akhirnya membuat keduanya terlambat masuk kelas. Sandi merupakan anak ke tiga
dari tiga bersaudara, Sandi terlahir dari keluarga sederhana ayahnya telah lama
meninggal sedangkan ibunya kini membuka toko disebuah kios dekat rumahnya dan
Sandipun hanya tinggal berdua saja dengan ibunya karena kedua kakanya sudah
menikah dan dibawa oleh suaminya masing-masing. Sejak saat itu mereka berdua
menjadi teman baik, bermain bersama saling membantu satu sama lain dan selalu
mengingatkan jika ada salah satu yang salah dengan mereka.
Ketika Wina sedang mendonorkan darahnya,
petugas PMI memanggil Wina untuk tidak mendonorkan darahnya lagi dikarenakan
ada penyakit yang belum diketahui dalam darahnya dan harus segera diperiksa ke
labolatorium untuk diperiksa. Wina kaget dengan perkataan petugas PMI dan langsung
memeriksanya ke lab karena penasaran penyakit apa yang ada dalam tubuhnya,
hasil lab langsung keluar dan Wina diberitahu dokter jika dua bulan kebelakang
Wina terdeteksi kanker darah (leukumia) dan harus segera melakukan pengobatan. Kanker
darah (leukemia) adalah kanker yang menyerang sel-sel
darah putih. Sel darah putih merupakan sel darah yang berfungsi melindungi
tubuh terhadap benda asing atau penyakit. Sel darah putih ini dihasilkan oleh
sumsum tulang belakang. Wina hanya terdiam
tidak percaya jika tubuhnya kini terkena penyakit seganas itu, ia merasa sedih
karena tidak bisa bermanfaat lagi untuk orang lain. Dokter menyarankan untuk
berobat satu bulan sekali agar dokter bisa memantaunya, karena pertumbuhan kanker
darah sangat cepat, mematikan, dan memburuk menyebar ke tubuh. Dokter tidak bisa menyimpulkan sampai
kapan bisa bertahan hidup yang jelas suatu saat rambutnya akan rontok dan
mengeluarkan darah dihidung atau dimulut dan bahkan ditelinga jika melakukan
kemo secara rutin. Wina takut dengan pernyataan dokter namun apalah daya semua
manusia akan mati sesuai dengan waktunya hanya saja cara matinya yang
berbeda-beda, Winapun ikhlas dengan kehendak Tuhan.
Seiring berjalannya waktu Wina sering
sakit kepala dan sesekali darah keluar dari hidung dan mulutnya, dari pertama
dinyatakan mengidap kanker darah tidak pernah sekalipun Wina mengeluh dan
bahkan ia tidak menceritakan kesakitannya itu kepada siapapun ia hanya
memendamnya sendiri karena tidak mau dikasihani dan berpikir cukuplah Tuhan dan
dirinya yang tau. Saat Wina sedang duduk di perpustakaan sendiri membaca buku
mengenai kanker tiba-tiba Sandi menghampiri dan mengambil buku yang sedang Wina
baca,”Serius sekali kamu baca bukunya, sampai tidak tahu aku datang”. Wina
hanya tersenyum sambil mengambil kembali buku yang dipegang Sandi dan
menyimpannya di rak buku dan keluar. Sandi merasa heran dan aneh meliha sikap
Wina yang tidak seperti biasanya, mengejar Wina karena ada suatu hal yang ingin
Sandi katakan padanya. Sandi merangkul tangannya dan membawa Wina ke taman
kampus dan duduk dikursi taman, ia tidak menannyakan kenapa sikapnya berubah
akhir-akhir ini karena beranggapan itu hanya perasaannya saja. Sandi langsung
mengungkapkan perasaannya, namun Wina tidak berkomentar ia hanya tersenyum
dengan muka pucatnya. Sandi berkata, “Ada apa denganmu kenapa tidak menjawab
pertanyaanku, aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bercanda aku serius.” Lalu
Wina menjawab, “Aku juga mencintaimu hanya saja aku tidak bisa”. Wina bergegas
pergi meninggalkan Sandi sambil menangis, ingin sekali rasanya ia menjawab YA
pada Sandi tapi Wina takut jika penyakitnya itu membuat orang yang ia cintai
pergi meninggalkannya.
Beberapa bulan kemudian Wina
dilarikan ke Rumah Sakit oleh neneknya karena neneknya khwatir jika cucunya itu
tiba-tiba mengeluarkan banyak darah dan rambutnya yang semakin hari semakin
rontok mukanya juga pucat, Winapun pingsan ditengah perjalanan menuju ke Rumah
Sakit dan semakin kagetlah nenek Wina melihat cucunya seperti itu. Nenek terus
menangis tiada henti meratap kesedihan cucunya, karena ia tidak pernah tahu
penyakit apa yang diderita cucunya. Dokter memanggil sang nenek dan menjelaskan
apa yang diderita cucunya, dokter mengatakan jika Wina terkena kanker darah
stadium akhir walaupun sudah beberapa kali transfusi darah dan kemotheraphy
namun itu tidak menjamin Wina sehat kembali. Sang nenek semakin menangis
histeris karena cucunya tidak pernah menceritakan apapun tentang kesakitannya itu.
Kemudian nenek berusaha menghubungi orang tua Wina yang sedang bekerja diluar
kota, namun tidak ada jawaban satupun dari mereka. Wina tiba-tiba berterima
kasih pada sang nenek karena selama ini ia telah merawat dirinya dari kecil
hingga sekarang tanpa mengeluh sedikitpun, nenek kaget tapi tidak menunjukkan
kesedihannya pada Wina dan menitipkan sepucuk surat pada nenek untuk kedua
orang tuanya. Dalam hati nenek merasa sedih tapi tidak menunjukkan kesedihannya
karena tidak ingin terlihat sedih oleh Wina.
Saat siang tiba Sandi datang ke
rumhanya Wina dan bertemu dengan pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah
Wina, ia mengatakan pada Sandi bahwa Wina dibawa ke rumah Sakit kemarin malam. Sandi
terkejut dan langsung pergi ke Rumah Sakit. Disana Sandi bertemu dengan nenek
Wina dan memperkenalkan diri, sang nenek yang sedang menangis menceritakan semuanya dan meminta bantuan pada
Sandi agar ia mau membantu penyembuhan cucunya karena Wina anak yang tertutup
yang tidak bisa menceritakan kesedihannya pada siapapun. Sandi ikut menangis
mendengar perkataan nenek karena selama ini Wina tidak pernah menceritakan
apapun padanya, yang Sandi tahu Wina wanita yang sangat periang yang tidak
punya beban apapun dalam hidupnya.
Keesokan harinya Sandi mengajak Wina
ke taman Rumah Sakit, mereka duduk dan berbincang menceritakan hal-hal yang
lucu. Seketika itu tiba-tiba darah keluar dari hidung dan mulut Wina, dengan
muka tersenyum Wina berkata “Aku tidak apa-apa, hal ini biasa terjadi padaku.” Sandi
terus membersihkan darah yang keluar mulut dan hidungnya, Sandi memeluk Wina
sambil mengelus-ngelus rambutnya dan ia mendapati rambut Wina rontok hampir
mendekati kebotakan. Wina berkata pada Sandi,”Jika aku pergi, aku ingin kamu
meluangkan datang dihari ualng tahunku tepatnya 5 agustus untuk menyimpan
setangkai mawar putih dipusaranku.” Sandi tersenyum sambil memeluk erat dan
berkata,”Kamu tidak akan pergi kemana-mana, aku disini akan selalu menjagamu.” Tidak
lama kemudian tubuh Wina terasa kaku dan tidak bicara apa-apa lagi, Sandi
mencoba membangunkan tapi Wina tidak bangun juga, Sandi kaget dan langsung
membawanya ke kamar untuk diperiksa dokter. Saat dokter keluar dari kamar,
dokter mengatakan bahwa Wina sudah pergi dari dunia ini. Sandi dan nenek
histeris menangis mendengar perkataan dokter, tubuh Sandi terasa lemas nyender
ke tembok tidak percaya jika wanita yang ia cintai pergi secepat itu. Sandi berjanji
pada dirinya sendiri jika ia akan menyimpan setangkai mawar putih tiap tahun
dihari ulang tahun Wina untuk mengenang kepergian orang yang ia cintai sampai
sekarang.
Sesaat setelah pemakaman Wina, nenek
menyerahkan sepucuk surat kepada orang tuanya yang sambil terus menangis mertapi
kepergian anaknya yang begitu cepat. Isi surat tersebut,
“Ayah,
Ibu terima kasih telah melahirkanku ke dunia ini. Maafkan aku karena belum
sempat membanggakanmu, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan selalu jaga
kesehatan. Aku bahagia walaupun selama ini kita tidak pernah menghabiskan waktu
bersama, aku tidak pernah menuntut itu yang penting kalian sehat dan selalu
bahgia. Satu pintaku yang sederhana tolong rawatlah tanamanku terutama mawar putih
jika bunga itu layu aku akan sangat sedih sekali.”
Yang mencintaimu,
Wina
Orang tua Wina merasa terpukul sekali atas kepergian
anaknya, namun mereka berjanji memenuhi permintaan anaknya untuk selalu merawat bunga-bunga Wina dan tidak akan membiarkannya
layu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar