Jumat, 20 Oktober 2017

MAWAR PUTIH

            Disebuah rumah yang besar hidup seorang anak perempuan bernama Wina, ia hidup dengan kedua orang tuanya yang keduanya sama-sama bekerja hingga tidak ada waktu untuk mengurusi Wina karena mereka selalu sibuk dengan urusannya masing-masing sampai akhirnya Wina diasuh oleh neneknya. Wina merupakan anak tunggal yang mandiri ia tidak pernah menyusahkan orang lain maupun orang tuanya, neneknya lah yang mendidik Wina menjadi seperti itu dari kecil hingga ia dewasa sekarang. Wina juga tumbuh menjadi seorang wanita yang peduli terhadap sesama, dari semenjak masih sekolah hingga sekarang ia rutin mendonorkan darahnya di PMI. Kini Wina kuliah disebuah universitas terkemuka fakultas pertanian karena Wina sangat menyukai tanaman, saat kecil dulu Wina diajari sang nenek untuk bercocok tanam. Saking sukanya ia terhadap tanaman hampir semua tanaman tumbuh dihalaman rumahnya, namun hanya satu tanaman yang Wina sukai yaitu bunga mawar putih yang walaupun tanaman itu penuh melukai tangannya karena duri tapi Wina tidak pernah takut untuk merawatnya. Wina beranggapan jika mawar putih merupakan lambang kesucian serta penyatuan dua insan yang saling mencintai, itulah alasan Wina menyukainya.
           Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang Wina berjalan menuju kelasnya tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang lelaki dan jatuhlah semua buku yang ia bawa dan laki-laki itu membantu Wina membereskannya. Laki-laki itu mengajak Wina berkenalan dan menyodorkan tangannya, “Aku Sandi, aku dari fakultas seni. Maaf untuk keteledorannya ya, nama kamu siapa?”. Wina menjawab.”Iya tidak apa-apa, aku Wina dari fakultas pertanian”. Mereka berbincang dikantin sambil menceritakan diri mereka masing-masing hingga mereka lupa waktu yang akhirnya membuat keduanya terlambat masuk kelas. Sandi merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara, Sandi terlahir dari keluarga sederhana ayahnya telah lama meninggal sedangkan ibunya kini membuka toko disebuah kios dekat rumahnya dan Sandipun hanya tinggal berdua saja dengan ibunya karena kedua kakanya sudah menikah dan dibawa oleh suaminya masing-masing. Sejak saat itu mereka berdua menjadi teman baik, bermain bersama saling membantu satu sama lain dan selalu mengingatkan jika ada salah satu yang salah dengan mereka.
         Ketika Wina sedang mendonorkan darahnya, petugas PMI memanggil Wina untuk tidak mendonorkan darahnya lagi dikarenakan ada penyakit yang belum diketahui dalam darahnya dan harus segera diperiksa ke labolatorium untuk diperiksa. Wina kaget dengan perkataan petugas PMI dan langsung memeriksanya ke lab karena penasaran penyakit apa yang ada dalam tubuhnya, hasil lab langsung keluar dan Wina diberitahu dokter jika dua bulan kebelakang Wina terdeteksi kanker darah (leukumia) dan harus segera melakukan pengobatan. Kanker darah (leukemia) adalah kanker yang menyerang sel-sel darah putih. Sel darah putih merupakan sel darah yang berfungsi melindungi tubuh terhadap benda asing atau penyakit. Sel darah putih ini dihasilkan oleh sumsum tulang belakang. Wina hanya terdiam tidak percaya jika tubuhnya kini terkena penyakit seganas itu, ia merasa sedih karena tidak bisa bermanfaat lagi untuk orang lain. Dokter menyarankan untuk berobat satu bulan sekali agar dokter bisa memantaunya, karena pertumbuhan kanker darah sangat cepat, mematikan, dan memburuk menyebar ke tubuh. Dokter tidak bisa menyimpulkan sampai kapan bisa bertahan hidup yang jelas suatu saat rambutnya akan rontok dan mengeluarkan darah dihidung atau dimulut dan bahkan ditelinga jika melakukan kemo secara rutin. Wina takut dengan pernyataan dokter namun apalah daya semua manusia akan mati sesuai dengan waktunya hanya saja cara matinya yang berbeda-beda, Winapun ikhlas dengan kehendak Tuhan.
            Seiring berjalannya waktu Wina sering sakit kepala dan sesekali darah keluar dari hidung dan mulutnya, dari pertama dinyatakan mengidap kanker darah tidak pernah sekalipun Wina mengeluh dan bahkan ia tidak menceritakan kesakitannya itu kepada siapapun ia hanya memendamnya sendiri karena tidak mau dikasihani dan berpikir cukuplah Tuhan dan dirinya yang tau. Saat Wina sedang duduk di perpustakaan sendiri membaca buku mengenai kanker tiba-tiba Sandi menghampiri dan mengambil buku yang sedang Wina baca,”Serius sekali kamu baca bukunya, sampai tidak tahu aku datang”. Wina hanya tersenyum sambil mengambil kembali buku yang dipegang Sandi dan menyimpannya di rak buku dan keluar. Sandi merasa heran dan aneh meliha sikap Wina yang tidak seperti biasanya, mengejar Wina karena ada suatu hal yang ingin Sandi katakan padanya. Sandi merangkul tangannya dan membawa Wina ke taman kampus dan duduk dikursi taman, ia tidak menannyakan kenapa sikapnya berubah akhir-akhir ini karena beranggapan itu hanya perasaannya saja. Sandi langsung mengungkapkan perasaannya, namun Wina tidak berkomentar ia hanya tersenyum dengan muka pucatnya. Sandi berkata, “Ada apa denganmu kenapa tidak menjawab pertanyaanku, aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak bercanda aku serius.” Lalu Wina menjawab, “Aku juga mencintaimu hanya saja aku tidak bisa”. Wina bergegas pergi meninggalkan Sandi sambil menangis, ingin sekali rasanya ia menjawab YA pada Sandi tapi Wina takut jika penyakitnya itu membuat orang yang ia cintai pergi meninggalkannya.
            Beberapa bulan kemudian Wina dilarikan ke Rumah Sakit oleh neneknya karena neneknya khwatir jika cucunya itu tiba-tiba mengeluarkan banyak darah dan rambutnya yang semakin hari semakin rontok mukanya juga pucat, Winapun pingsan ditengah perjalanan menuju ke Rumah Sakit dan semakin kagetlah nenek Wina melihat cucunya seperti itu. Nenek terus menangis tiada henti meratap kesedihan cucunya, karena ia tidak pernah tahu penyakit apa yang diderita cucunya. Dokter memanggil sang nenek dan menjelaskan apa yang diderita cucunya, dokter mengatakan jika Wina terkena kanker darah stadium akhir walaupun sudah beberapa kali transfusi darah dan kemotheraphy namun itu tidak menjamin Wina sehat kembali. Sang nenek semakin menangis histeris karena cucunya tidak pernah menceritakan apapun tentang kesakitannya itu. Kemudian nenek berusaha menghubungi orang tua Wina yang sedang bekerja diluar kota, namun tidak ada jawaban satupun dari mereka. Wina tiba-tiba berterima kasih pada sang nenek karena selama ini ia telah merawat dirinya dari kecil hingga sekarang tanpa mengeluh sedikitpun, nenek kaget tapi tidak menunjukkan kesedihannya pada Wina dan menitipkan sepucuk surat pada nenek untuk kedua orang tuanya. Dalam hati nenek merasa sedih tapi tidak menunjukkan kesedihannya karena tidak ingin terlihat sedih oleh Wina.
         Saat siang tiba Sandi datang ke rumhanya Wina dan bertemu dengan pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Wina, ia mengatakan pada Sandi bahwa Wina dibawa ke rumah Sakit kemarin malam. Sandi terkejut dan langsung pergi ke Rumah Sakit. Disana Sandi bertemu dengan nenek Wina dan memperkenalkan diri, sang nenek yang sedang menangis  menceritakan semuanya dan meminta bantuan pada Sandi agar ia mau membantu penyembuhan cucunya karena Wina anak yang tertutup yang tidak bisa menceritakan kesedihannya pada siapapun. Sandi ikut menangis mendengar perkataan nenek karena selama ini Wina tidak pernah menceritakan apapun padanya, yang Sandi tahu Wina wanita yang sangat periang yang tidak punya beban apapun dalam hidupnya.
          Keesokan harinya Sandi mengajak Wina ke taman Rumah Sakit, mereka duduk dan berbincang menceritakan hal-hal yang lucu. Seketika itu tiba-tiba darah keluar dari hidung dan mulut Wina, dengan muka tersenyum Wina berkata “Aku tidak apa-apa, hal ini biasa terjadi padaku.” Sandi terus membersihkan darah yang keluar mulut dan hidungnya, Sandi memeluk Wina sambil mengelus-ngelus rambutnya dan ia mendapati rambut Wina rontok hampir mendekati kebotakan. Wina berkata pada Sandi,”Jika aku pergi, aku ingin kamu meluangkan datang dihari ualng tahunku tepatnya 5 agustus untuk menyimpan setangkai mawar putih dipusaranku.” Sandi tersenyum sambil memeluk erat dan berkata,”Kamu tidak akan pergi kemana-mana, aku disini akan selalu menjagamu.” Tidak lama kemudian tubuh Wina terasa kaku dan tidak bicara apa-apa lagi, Sandi mencoba membangunkan tapi Wina tidak bangun juga, Sandi kaget dan langsung membawanya ke kamar untuk diperiksa dokter. Saat dokter keluar dari kamar, dokter mengatakan bahwa Wina sudah pergi dari dunia ini. Sandi dan nenek histeris menangis mendengar perkataan dokter, tubuh Sandi terasa lemas nyender ke tembok tidak percaya jika wanita yang ia cintai pergi secepat itu. Sandi berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan menyimpan setangkai mawar putih tiap tahun dihari ulang tahun Wina untuk mengenang kepergian orang yang ia cintai sampai sekarang.
           Sesaat setelah pemakaman Wina, nenek menyerahkan sepucuk surat kepada orang tuanya yang sambil terus menangis mertapi kepergian anaknya yang begitu cepat. Isi surat tersebut,

“Ayah, Ibu terima kasih telah melahirkanku ke dunia ini. Maafkan aku karena belum sempat membanggakanmu, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan selalu jaga kesehatan. Aku bahagia walaupun selama ini kita tidak pernah menghabiskan waktu bersama, aku tidak pernah menuntut itu yang penting kalian sehat dan selalu bahgia. Satu pintaku yang sederhana tolong rawatlah tanamanku terutama mawar putih jika bunga itu layu aku akan sangat sedih sekali.”
                                                                                                                                                                                                                                                         
                                                                                                                                                                      Yang mencintaimu,
                                                                                                                                                                                                                                    Wina

                Orang tua Wina merasa terpukul sekali atas kepergian anaknya, namun mereka berjanji memenuhi permintaan anaknya untuk selalu merawat bunga-bunga Wina dan tidak akan membiarkannya layu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 HUJAN         Qinant namanya anak pertama dari dua bersaudara yang kini berumur 20 tahun sedang duduk dibangku kuliah jurusan psikolog...