HUJAN
Qinant namanya anak pertama dari dua bersaudara yang kini berumur 20 tahun sedang duduk dibangku kuliah jurusan psikologi disebuah universitas terkemuka dan bekerja paruh waktu disebuah toko buku untuk menambah uang jajan dan membayar kuliahnya sedangkan adiknya bernama Qinara berumur 15 tahun dan duduk dibangku sekolah, Ayah Qinant bekerja sebagai pegawai swasta disuatu perusahaan dan Ibunya seorang ibu rumah tangga. Qinant merupakan anak yang periang dan juga ramah serta memiliki banyak teman baik dikampusnya maupun diluar, sekalipun banyak permasalahan dalam hidupnya tapi dia tidak pernah mengeluh atas apa yang menimpa dirinya dan bahkan pandai menyembunyikan masalah. Qinant hanya memiliki satu mimpi yaitu membahagiakan kedua orang tuanya dan mengabaikan semua keinginan-keinginan yang dirasanya tidak penting, karena yang terpenting dalam hidupnya adalah keluarga. Hingga saat ini pun Qinant tidak pernak mengenal yang namanya cinta dari sebuah hubungan lawan jenis.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 wib dihari sabtu Qinant pergi ke kampus karena hari ini ada praktek yang dilakukan diluar kampus dan harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan dosen yang bersangkutan, hari itu menjadi hari pertamanya bertemu dengan orang-orang baru dan menjadi hari dimana ia bertemu dengan seorang laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Laki-laki itu bernama Riko seorang pelayan cafe yang terlahir dari keluarga sederhana dan sudah tidak memiliki orang tua karena keduanya meninggal dalam sebuah kecelakaan bus dalam perjalanan ke luar kota lima tahun yang lalu, kini ia berusia sama dengan Qinant yaitu 20 tahun. Semenjak kepergian orang tuanya Riko menjadi tinggal bersama saudaranya, ia berpikir bagaimana caranya untuk bisa bertahan hidup dan memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya lebih tinggi lagi karena tidak memiliki biaya untuk melakukan itu. Saat jam istirahat dan hujanpun tiba Qinant serta teman-temannya makan siang disebuah cafe tepat dimana Riko bekerja, disanalah mereka bertemu dan bertubrukan saat Riko membawa makanan untuk disajikan kepada pelangga "Bruuuuukkk!" jatuhlah makanan yang dibawa Riko. Mereka saling menatap satu sama lain dan meminta maaf secara bersamaan sambil membereskan pecahan-pecahan piring yang berserakan dilantai, Riko terus menatap Qinant dan membuatnya penasaran serta berpikiran untuk mengetahui Qinant lebih jauh lagi. Qinant berkaa, "Maaf mas saya menjatuhkan makanannya, nanti saya bayar kerugiannya." Riko menjawab, "Tidak apa-apa mba, ini memang keteledoran saya lain kali saya hati-hati. Tidak usah membayar mba, jika boleh saya meminta nomor mba saja". Qinant langsung memberikannya karena ia merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan dan tidak berpikir buruk terhadap pintaan Riko. Saat itulah Qinant dan Riko semakin dekat dan mereka memutuskan untuk berpacaran, Qinant sering mendatanginya yang sesekali membantu Riko melayani pelanggan di cafe. Kebersamaan itu membuat Qinant lupa segalanya bahkan ia hanya selalu berpikir Riko dan Riko, cinta telah membutakan mata hatinya mungkin karena ini cinta pertamanya.
Setiap mereka bertemu hujanlah yang menahan mereka untuk terus bersama dan berpikir jika hujan merupakan berkat dari Tuhan untuk mereka dan merencanakan untuk menikah, namun seiring berjalannya waktu hubungan mereka semakin hari semakin tidak baik banyak permasalahan baru baik itu hal kecil maupun besar. Riko mulai bosan dengan Qinant dan mencari perempuan lain, Riko mengurungkan niatnya untuk tidak meninggalkan Qinant. Saat hujan datang Riko menemui Qinant dan mengatakan bahwa ia sudah tidak ingin berhubungan dengannya karena sudah ada wanita lain yang mengisi hatinya, Qinant kaget dan terdiam tidak mengatakan apa-apa dia hanya mendengrkan apa yang Riko katakan dan kemudian pergi berjalan ditemani hujan. Qinant tidak percaya atas apa yang ia dengar hari ini, dia baru menyadarinya jika laki-laki yang selama ini ia cintai dengan setulus hati tidaklah baik untuknya yang justru merusak kehidupannya. Hari itu menjadi hari yang paling Qinant benci karena hujanpun tidak berpihak padanya dan hanya penyesalan yang ia rasakan saat itu, berusaha untuk melupakan nama itu didalam hatinya meski terasa berat sekali karena ia begitu mencintainya namun hal itu hanya akan menyakitinya saja, hujan yang menjadi saksi cintanyapun ikut menjadi kebenciannya. Sejak saat itu Qinant tak ingin lagi mengenal yang namanya Cinta hingga saat ini.
Tidak sepenuhnya Cinta memberikan kebahagiaan dalam hidup karena sebagian cinta akan meninggalkan luka yang tak berarti harus diperjuangkan bahkan ada kalanya kita harus berhenti ataupun jauh dari ini, kamu tahu cinta yang tulus tidak akan pergi meski badai datang ia akan terus menetap jiwa. Hujan yang turun tak selamanya memberi kehidupan mungkin hanya sebagian orang yang mengartikannya sebuah kenangan pahit dan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar